Gunung Semeru memiliki tempat yang khusus bagi umat
Hindu dan Budha di Indonesia pada umumnya. karena gunung ini
dipersonifikasikan sebagai gunung suci yang berada di India. dalam
kosmologi Hindu dan Budha Semeru berasal dari bahasa sangsekerta yang
berarti Sumeru “Meru Agung” adalah pusat alam semesta baik secara fisik
maupun metafisik (spiritual). Gunung ini dipercaya sebagai tempat
bersemayamnya para Dewa (Siwa). Gunung ini juga dianggap sebagai “Lingga
Acala” lingga yang tidak bergerak sekaligus juga berarti lingga yang
bukan diciptakan oleh manusia. Dalam bahasa Jawa Kuno, Acala memang juga
diartikan gunung atau karang.. Dalam Teks-teks “Purana” India
yang tergolong kitab Upaweda (penjelasan lebih lanjut atas Weda) memang
menyebutkan Tuhan Yang Mahatunggal bersemayam di puncak Mahameru, yang
dikenal juga dengan nama Gunung Kailasa atau Gunung Himawan.
Legenda Gunung Semeru, dalam kitab Tantu Panggelaran
berbahasa Jawa Tengah, dalam bentuk prosa menceritakan, ketika tanah
Jawa masih tidak seimbang, belum stabil, Batara Guru menitahkan para
Dewa memenggal puncak Gunung Mahameru dari tanah Bharatawarsa (India)
untuk dibawa ke Jawa. Titah itu laksanakan para Dewa. Puncak Gunung
Mahameru akhirnya dipenggal, kemudian diterbangkan ke tanah Jawa dan
Jatuh disisi barat pulau Jawa, tanah Jawa berguncang. Bagian timur Jawa
terangkat, sedangkan bagian barat Jawa justru malah tenggelam.
Potongan puncak Gunung Mahameru itu pun dibawa
kembali ke arah timur. Sepanjang perjalanan dari barat ke bagian timur
tanah Jawa, bagian-bagian puncak Gunung Mahameru itu ada yang
berjatuhan. bagian-bagian yang jatuh itu akhirnya tumbuh menjadi enam
gunung kecil. masing-masing Gunung Katong (Gunung Lawu, 3.265 mdpl),
Gunung Wilis (2.169 mdpl), Gunung Kampud (Gunung Kelud, 1.713 mdpl),
Gunung Kawi (2.631 mdpl), Gunung Arjuna (3.339 mdpl), dan Gunung Kemukus
(3.156 mdpl)
Begitu sampai dibagian timur ternyata pulau Jawa
masih tetap tidak seimbang. Akhirnya para Dewa pun memutuskan untuk
memotong bagian puncak gunung Semeru kemudian menjatuhkanya disebelah
barat laut, dan potongan ini membentuk gunung baru, yakni Gunung
Pawitra, atau yang sekarang akrab kita kenal dengan nama Gunung
Pananggungan. Legenda gunung Semeru ini memberikan gambaran terkait
penyebaran Hindu paham Siwaistis dari tanah India ke negeri Nusantara
yang berpusat di tanah Jawa, dan meninggalkan pengaruh besar terhadap
kepercayaan dan kebudayaan suku Tengger hingga saat ini.
selain keindahan panorama alam dan legenda
keberadaannya ternyata gunung Semeru memiliki Peninggalan Arkeologi
berupa Arca (Arcopodo) dan prasasti kumbolo. Menurut Dwi Cahyono, Dosen,
Arkeolog Universitas Negeri Malang dalam tulisan wawancaranya disalah
satu website mengatakan, prasasti kumbolo adalah prasasti yang
diperkirakan peninggalan dari kerajaan Kediri. sedangkan Arcopodo
diperkirakan peningalan jaman kerajaan Majapahit.
Kerajaan masa Hindu – Budha di daerah Jawa Timur
dibagi ke dalam tiga periode. Periode pertama adalah kerajaan Kediri
yang memerintah sejak abad ke 10M hingga tahun 1222 M. periode kedua
masa kerajaan Singosari yang memerintah tahun 1222 M hingga tahun 1293
M. dan periode ketiga masa kerajaan Majapahit yang memerintah dari tahun
1293 M hingga abad ke 6. dapat disimpulkan bahwa kedua peninggalan
arkeologi Gunung Semeru adalah peninggalan purbakala yang kaya akan
nilai histori dan budaya.
Arca dianggap menghilang setelah di publikasikan
keberadaanya di majalah Swara Alam tahun 1986 karena memang tidak ada
pendaki lain yang mempublikasikan atau mendokumentasikanya lagi setelah
itu. Menurut penduduk sekitar, pada tahun 80an jalur pendakian ke puncak
Mahameru memang dirubah ke jalur pendakian (baru) seperti sekarang ini,
perubahan jalur itu sangat mungkin dan beralasan. Menurut saya, ada dua
alasan utama perubahan jalur tersebut. Pertama, perubahan jalur
dilakukan untuk melindungi keberadaan ke dua Arca tersebut dari tangan
orang – orang yang tidak bertanggung jawab. Kedua, terjadi kerusakan
jalur pada saat itu karena adanya perubahan kondisi alam. Ini dapat
dibuktikan dengan sulitnya medan yang ditempuh oleh tim Ekspedisi Cincin
Api Kompas dalam tulisanya saat melakukan penulusuran tahun 2011 lalu.
Mengapa ada Arca (Arcopodo) digunung Semeru? Apa
makna dari Arcopodo? Secara umum Arca adalah patung yang merupakan
bagian dari tempat suci umat Hindu. Patung ini memiliki tempat yang
penting. Bahkan jauh sebelum Hindu dan Budha masuk ke Nusantara
(Indonesia) saat animisme dan dinamisme masih menjadi kepercayaan
suku-suku di Indonesia. Patung itu memiliki peran penting terhadap
upacara pemujaan roh – roh nenek moyang. Patung digunakan sebagai wadah
penghubung atau tempat menampung roh yang “diundang”. Karena Semeru
adalah gunung suci. Maka pantaslah jika ada Arca di gunung ini.
Menurut Pak Dwi Cahyono, sesuai namanya Arcopodo sebenarnya berasal dari kata Arca dan Pada, yang dalam bahasa Jawa yang terpengaruh Sangsekerta, pada artinya tempat. ”Jadi, Arca-Pada adalah Tempat Arca” Pak Dwi pun memberi penjelasan jika salah satu arca itu kemungkinan adalah sosok Bima. Bliau kemudian membandingkan dengan foto Arca Bima di Candi Sukuh di lereng Gunung Lawu. Badan dan tangannya mirip Bima.
Bima adalah perwujudan tokoh untuk tolak bala Dengan demikian, tempat tersebut merupakan pemujaan yang difungsikan untuk ritual menghalau bencana dari puncak Gunung Semeru yang aktif.
Berbeda dengan Pak Dwi,
saya memiliki pandangan lain. bahwa kata Arcopodo berasal dari dua kata
gabungan. Yaitu, Arco dan Podo. Arco adalah Arca dan Podo adalah Sama.
Dalam bahasa Jawa, pergantian dan penggunaan huruf “o” sebagai “a” sudah
umum dan menjadi ciri bahasa Jawa. Jadi dapat disimpulkan bahwa kata
Arcopodo memiliki arti “Arca yang Sama” dalam bahasa Jawa. Dan jika
diperhatikan foto Arca diatas memang terdapat kesamaan dari segi bentuk,
tinggi dan ukuran. Arcopodo adalah dua Arca yang sama?
Lalu apakah benar
Arcopodo itu adalah Arca perwujudan sosok Bima? saya juga memiliki
pandangan lain yang berbeda dengan Pak Dwi. Menurut saya, Arcopodo
adalah Arca prwujudan dari Dewa Kala dan Anukala. Kala dan Anukala ini
memiliki kedudukan yang sama dengan Nandicwara dan Mahakala. Jika
merujuk pada buku Prof. Soekmono, Candi Fungsi dang Pengertianya,
Nandicwara dan Mahakala dalam bagian Candi ditempatkan sebagai
Dwarapala, arca penjaga yang terdapat di pintu masuk bagunan Candi. Jadi
Arcopodo adalah Arca penjaga namun bukan Arca Bima?
Dalam kitab Tantu
Panggelaran yang diperkirakan dibuat abad ke 15 itu memberikan
penjelasan penempatan para Dewa dan memberikan keterangan bahwa gunung
Mahameru dijaga oleh Gana pada gapura timurnya, oleh Agasti pada gapura
selatanya, oleh Gauri pada gapura utaranya dan oleh Kala dan Anakula
pada gapura baratnya. (Dr. Pigeaud 1924:96-97) dikutip oleh Prof. Dr. R
Soekmono. Dalam bagunan suci Candi, posisi letak Dewa-Dewa ini tidak
pakem terhadap arah. Posisi Dewa ini bergantung terhadap arah (kiblat)
bagunan Candi tersebut.
Jadi menurut saya
Arcopodo di gunung Semeru adalah Arca penjaga gapura, pintu untuk
memasuki tempat tersuci (puncak Mahameru). Pandangan saya ini tentunya
masih harus ditelaah kembali baik secara kontekstual maupun tekstual
oleh para ahli-ahli sejarah dan arkeologi agar didapatkan gambaran jelas
tentang sejarah Arca kembar (Arcopodo) yang berada di gunung tertinggi
di pulau Jawa, Semeru.
Gunung Semeru, Keindahan, Sejarah, Legenda dan
Cerita. Sesuai dengan judul tulisan. dalam bagian ini saya akan
menceritakan pengalaman perjalanan yang mungkin bisa memberikan kamu
sedikit gambaran jika kamu ingin atau berencana melakukan pendakian ke
gunung Semeru. Sebelumnya perlu dicatat Semeru adalah Gunung Suci, jadi
jaga setiap omongan, perbuatan, dan kelestarian (sampah) kamu saat
mendaki. Alam memiliki cara sendiri untuk merespon perbuatan manusia.
Gunung Semeru memiliki dua jalur pendakian. Yang
pertama adalah jalur Ranu Pane, jalur ini bisa diakses melalui kota
Malang. Dan yang kedua adalah jalur Senduro, jalur ini bisa diakses
melalui Lumajang. Dari kedua jalur ini, jalur Ranu Pane lah yang paling
ramai dan umum digunakan oleh para pendaki. Di Ranu Pane pun terdapat
dua jalur pendakian. Yang pertama adalah jalur konvensional dan kedua
jalur ayek –ayek.
Ada beberapa pertimbangan utama mengapa kebanyakan
pendaki lebih memilih jalur Ranu Pane. Diantaranya, jarak dan kemudahan
transportasi ke desa terakhir (pos pendakian). Desa Ranu Pane lebih
mudah diakses dibandingkan Lumajang, Senduro. jalur pendakian yang akan
ditulis disini adalah jalur pendakian melalui jalur Konvensional Ranu
Pane.
Perjalanan dimulai dari Kota Malang yang kemudian
dilanjutkan menuju Tumpang. Tumpang berada di kabupaten Malang, jarak
dari kota Malang menuju Tumpang kurang lebih 16 km. jika kamu
menggunakan Kereta Api kamu bisa berhenti di stasiun akhir “Malang Kota
Baru” setelah itu kamu bisa melanjutkan menggunakan angkot ADL, AL atau
angkutan lainya yang menuju terminal Arjosari. Perjalanan stasiun ke
terminal kurang lebih 15 menit. Dari terminal Arjosari kamu bisa
menggunakan angkot berwarna putih dengan tujuan Tumpang TA. jika kamu
rombongan, kamu bisa mencarter angkot langsung dari stasiun Malang untuk
memudahkan perjalanan langsung menuju Tumpang karena biaya yang
dikeluarkan akan lebih murah. Jika kamu menggunakan transportasi udara
kamu bisa menggunakan jasa taxi Bandara Abd. Shaleh untuk menuju
Tumpang.
Sesampai di terminal Tumpang (pasar), kamu bisa
melanjutkan perjalanan ke Desa trakhir (pos pendakian) Ranu Pane dengan
menggunakan transportasi khusus Jeep. Sebelum melanjutkan perjalanan
menuju Ranu Pane ada baiknya jika kamu mencek ulang kelengkapan,
kebutuhan dan persyaratan yang kamu bawa. Bila perlu buatlah cek list
untuk mempermudah dan memastikan tidak ada kelengkapan yang tertinggal.
Missal, logistik, bahan bakar, obat-obatan, perlengkapan camping dan
kebutuhan pribadi lainya. Di Tumpang kamu bisa melengkapi keperluan yang
akan kamu butuhkan selama melakukan pendakian.
Tumpang adalah salah satu daerah di Malang yang
bersejarah. Karna disini terdapat situs peninggalan Purbakala berupa
Candi. Candi – candi ini merupakan peninggalan kerajaan Singosari pada
abad ke 12. diantaraya candi Kidal (pendharmaan Raja Anusapati) dan
Candi Jago (pendharmaan Raja Winuwardhana). Selain itu Tumpang juga
memiliki obyek wisata alam berupa air terjun. Coban Pelangi, Coban
Terisula adalah contohnya. Di Tumpang kamu juga bisa menikmaati wisata
petik apel di daerah Ponco Kusumo. Apel dari daerah ini terkenal
kualitasnya.
Sebagai catatan. Kamu diwajibkan membawa surat
keterangan sehat dari dokter, atau puskesmas. Surat itu digunakan
sebagai syarat saat melakukan ijin pendakian di pos pendakian gunung
Semeru. Jika kamu lupa membawanya jangan kawatir. Kamu bisa mengurusnya
di puskemas Tumpang yang terletak kurang lebih 500 M dari pasar Tumpang.
Jeep yang akan membawa kamu ke pos pendakian selalu
stanby di depan Pasar Tumpang, depan Alfamart. Perjalanan Tumpang – Ranu
Pane membutuhkan waktu sekitar dua jam perjalanan. dengan kondisi jalan
menanjak dan berbelok-belok khas pegunungan. Selama perjalanan kamu
akan dimanjakan oleh indahnya pemandangan alam berupa kebun apel, hutan,
pertanian dan bukit teletubies gunung Bromo yang terletak di daerah
Jemplang dan Bantengan, perbatasan Malang dan Lumajang.Sesampainya di Desa Ranu Pane kamu bisa langsung mengurus surat ijin pendakian. Ranu Pane adalah Desa yang berada di ketinggian 2.100 Mdpl. Suku asli Desa Ranu Pane adalah suku Tengger. Ranu Pane berasal dari nama danau yang berada diwilayahnya. Ranu dalam bahasa Indonesia adalah Danau. Selain Ranu Pane. Di Desa ini juga terdapat Ranu Regulo. Di desa Ranu Pane, sekitar pos pendakian terdapat warung-warung yang menjual makanan, tempat persewaan alat-alat perlengkapan camping, dan penginapan (home stay).
Surat ijin pendakian ditangan, berarti kamu sudah
bisa memulai perjalanan pendakian. Perlu diketahui estimasi waktu
pendakian gunung Semeru bervariasi. Ada yang dua hari satu malam, ada
yang tiga hari dua malam dan yang standar pada umunya adalah empat hari
tiga malam.
Sebelumnya kamu harus tentukan berapa lama kamu akan
melakukan pendakian. Karena ini sangat berpengaruh terhadap barang
bawaan dan beban barang yang akan dibawa selama pendakian. Tulisan
perjalanan ini akan merujuk kewaktu standart pendakian umum yaitu empat
hari tiga malam.
Hari pertama. Tujuan perjalanan adalah Ranu Kumbolo.
Ranu Kumbolo berada diketinggian 2.400 dari permukaan laut. Estimasi
waktu perjalanan empat sampai lima jam berjalan kaki. Jarak tempuh 10,5
Km. untuk sampai di Ranu Kumbolo kamu akan melewati 4 pos. yaitu pos 1, pos2, pos 3 dan pos 4 yang berada diatas
Ranu Kumbolo. Diantara pos-pos tersebut kamu juga akan menemukan dua
“welcome area” berupa papan informasi. Diantaranya welcome area
Landengan Dowo (antara Ranu Pane dan Pos 1) dan Watu Rejeng (antara Pos 2
dan Pos 3). Papan informasi itu berisi letak, ketinggian, dan jarak
tempuh pendakian. Ranu Kombolo adalah camp hari pertama.
Untuk mencapai Kalimati dari Ranu Kumbolo kamu akan
melalui beberapa tempat. yaitu, Oro-oro ombo, Cemoro Kandang, dan
Jambangan. Estimasi waktu perjalanan tiga jam dengan jarak tempuh 7.5 Km
dari Ranu Kumbolo.
Oro-oro ombo adalah padang rumput yang memiliki luas
kurang lebih 100 ha. Sedangkan Cemoro Kandang adalah hutan yang
didominasi pohon cemara gunung dan tumbuhan paku-pakuan. Dan Jambangan
adalah padang rumput yang ditumbuhi oleh edelweiss, cantigi dan cemara.
Dari Jambangan ini puncak Mahameru akan mulai terlihat jelas disaat
cuaca cerah tanpa kabut.
Hari ketiga, tujuan perjalanan adalah puncak Mahameru yang berada di ketinggian 3.676 Mdpl. perjalanan ke puncak dimulai saat dini hari sekitar pukul satu, selain untuk mengejar sunrise, pendakian puncak saat dini hari dilakukan untuk mengejar waktu. Perlu diketahui saat pukul sembilan pagi kamu sudah harus turun dari puncak Mahameru karena dikhawatirkan akan adanya perubahan arah angin yang akan membawa gas beracun dari kawah aktiv yang mengarah kearah jalur pendakian. sudah seharusnya saya dan kamu mengikuti pakem ini. karena cuaca, perubahan alam terkadang tidak dapat diprediksi.
Perjalanan dihari ketiga ini adalah perjalanan
terberat jika dibandingkan dengan hari pertama dan kedua. karena medan
yang akan dilalui cukup sulit. Selain menanjak medan yang akan ditempuh
berupa pasir dengan batuan-batuan yang mudah longsor dengan tingkat
kemiringan jalur yang cukup tajam. Dibutuhkan semangat dan fisik
(kesehatan) yang prima agar bisa sampai di puncak Mahameru, tanah
tertinggi di pulau Jawa.
Jarak Kalimati ke puncak Mahameru 2.7 Km, waktu
tempuh bervariasi antara empat hingga tujuh jam perjalanan berjalan
kaki. Waktu tempuh ini sangat tergantung terhadap kondisi dan kemampuan
fisik seseorang. Ada yang lebih lambat, ada juga yang mungkin lebih
cepat karna fisik seseorang tidak sama.
Setelah berjalan kaki sejauh 1.2 Km, diketinggian
2.900 Mdpl kamu akan sampai di Pos Arcopodo, Pos terakhir sebelum
puncak. Disini tidak terdapat bagunan seperti halnya di Pos 1, 2,3 dan
4. di Pos Arcopodo kamu hanya menemukan tulisan informasi saja. Di Pos
ini terdapat tanah datar yang tidak begitu luas dan biasanya beberapa
pendaki menjadikanya camp alternative terakhir sebelum melanjutkan
perjalanan ke puncak
Pendaki yang menjadikan Pos Arcopodo sebagai camp
terakhir tentunya memiliki beberapa pertimbangan. Salah satunya adalah
waktu, dan jarak tempuh. Untuk sampai puncak Mahameru, jarak dari Pos
Arcopodo ke puncak hanya 1.5 Km, lebih dekat jika dibandingkan dari camp
Kalimati ke puncak yang berjarak 2.7 Km. Jadi jika kamu memilih camp
Arcopodo, kamu tidak perlu berangkat dini hari.
Namun ada beberapa pertimbangan yang menjadi catatan
jika kamu menjadikan Pos Arcopodo sebagai camp terakhir sebelum puncak,
yaitu air. Karena di Pos Arcopodo ini tidak terdapat sumber mata air.
Ini berarti mengharuskan kamu membawa persediaan air lebih banyak untuk
memenuhi kebutuhan minum dan memasak, dan pastinya akan menambah beban
barang bawaan yang cukup menguras tenaga.
Menjaga kelestarian alam bukanlah tanggung jawab
petugas (pengelola) atau kelompok pecinta alam saja. Menjaga kelestarian
alam menjadi tanggung jawab bersama (pengunjung). Salinglah
mengingatkan agar alam tetap indah dan terjaga. Dengan menjaga alam
berarti kamu menjaga keseimbangan. Jika alam terjaga keseimbanganya,
bencana alam dan kerusakan bisa dihindari. saya teringat dengan kata
bijak berbahasa Ingris “TAKE NOTHING BUT PICTURES, LEAVE NOTHING BUT
FOOTPRINT, KILL NOTHING BUT TIME” semoga kata bijak ini bisa selalu saya
dan kamu ingat.
Sesampai di pos pendakian Ranu Pane kamu diwajibkan
melapor kepada petugas yang berjaga. Setelah itu kamu bisa beristirahat,
berjalan – jalan disekitat Ranu Pane atau Ranu Regulo, atau langsung
melanjutkan perjalanan ke kota asal. Selamat berkumpul kembali bersama
keluarga, saudara dan rekan, Semoga selamat sampai tujuan. Sumber : https://justenote.wordpress.com/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar